𝗟𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽 𝗦𝘂𝗴𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗛𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗠𝗲𝘁𝗲𝗼𝗿 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗶𝗱 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗽𝗽𝗮 𝗖𝘆𝗴𝗻𝗶𝗱 - LENSA BALI

Hot


Minggu, 02 Agustus 2026

𝗟𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽 𝗦𝘂𝗴𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗛𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗠𝗲𝘁𝗲𝗼𝗿 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗶𝗱 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗽𝗽𝗮 𝗖𝘆𝗴𝗻𝗶𝗱

Langit Bali Bersiap Suguhkan Pertunjukan Hujan Meteor Perseid dan Kappa Cygnid

DENPASAR, Lensabali.id - Langit Bali akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik sepanjang Agustus 2026. Masyarakat dan wisatawan berkesempatan menyaksikan dua hujan meteor yang diprediksi tampil cukup jelas, yakni Perseid dan Kappa Cygnid.

Fenomena yang paling dinantikan adalah hujan meteor Perseid. Tahun ini, kondisi pengamatan dinilai sangat mendukung karena puncak aktivitasnya bertepatan dengan fase Bulan Baru (New Moon), sehingga langit malam relatif gelap dan minim gangguan cahaya bulan.

Hujan meteor Perseid aktif sejak 17 Juli hingga 24 Agustus 2026. Puncak fenomena diperkirakan terjadi pada malam 12 hingga 13 Agustus 2026 dengan waktu pengamatan terbaik mulai pukul 00.00 hingga 05.00 WITA. Meteor-meteor tersebut akan tampak berasal dari arah langit utara hingga timur laut, tepatnya di sekitar Konstelasi Perseus.

Selain Perseid, masyarakat juga dapat menyaksikan hujan meteor Kappa Cygnid yang meski tidak sebanyak Perseid, tetap menawarkan pemandangan langit yang menarik. Fenomena ini aktif pada 3–25 Agustus 2026 dan mencapai puncaknya pada 18 Agustus 2026.

Kappa Cygnid dapat diamati mulai pukul 21.00 WITA hingga dini hari. Pengamat disarankan mengarahkan pandangan ke langit utara, di sekitar Konstelasi Cygnus yang menjadi titik radian hujan meteor tersebut.

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, lokasi pengamatan sebaiknya berada jauh dari polusi cahaya perkotaan. Sejumlah kawasan dataran tinggi seperti Bedugul dan Kintamani menjadi pilihan yang direkomendasikan karena memiliki langit yang lebih gelap dan terbuka.

Selain itu, wilayah pesisir di Bali bagian utara dan timur seperti Lovina maupun Amed juga dinilai ideal untuk menikmati fenomena langit malam tersebut. Area dengan cakrawala luas akan memudahkan pengamat melihat lintasan meteor yang melesat cepat.

Fenomena hujan meteor tidak memerlukan peralatan khusus seperti teleskop. Pengamatan cukup dilakukan dengan mata telanjang karena meteor umumnya melintas dalam area langit yang luas dan berlangsung sangat singkat.

Para pengamat juga disarankan memberi waktu sekitar 15 hingga 20 menit agar mata beradaptasi dengan kondisi gelap. Mengurangi paparan cahaya dari layar ponsel atau perangkat elektronik lainnya akan membantu meningkatkan kemampuan melihat meteor yang melintas di langit malam.

Dengan kondisi langit yang mendukung, Agustus 2026 menjadi salah satu waktu terbaik bagi masyarakat Bali maupun wisatawan untuk menikmati keindahan fenomena astronomi secara langsung. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar