𝗞𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗝𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁, 𝗚𝗮𝘆𝗮 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗰𝘂 - LENSA BALI

Hot


Sabtu, 08 Agustus 2026

𝗞𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗝𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁, 𝗚𝗮𝘆𝗮 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗰𝘂

Kasus Penyakit Jantung di Bali Meningkat, Gaya Hidup Jadi Salah Satu Pemicu

DENPASAR, Lensabali.id – Kasus penyakit jantung di Bali menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut turut mendorong kebutuhan terhadap teknologi medis yang semakin maju untuk membantu proses diagnosis dan penanganan pasien.

Hospital Director Siloam Hospitals Bali, Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, mengatakan peningkatan tersebut salah satunya terlihat dari jumlah tindakan kateterisasi atau Catheterization Laboratory (Cath Lab). Sejak layanan Cath Lab pertama dibuka pada 2012 hingga sekarang, jumlah tindakan disebut meningkat sekitar 10-20 persen.

"Kalau kita bandingkan dari tahun 2012 waktu kita buka Cath Lab pertama sampai sekarang itu peningkatannya sekitar 10 sampai 20%. Nah, rata-rata kita meng-handle Cath Lab atau tindakan Cath Lab saat ini itu 150 sampai 200 per bulan. Per bulan, jadi kalau disetahunkan ya kurang lebih 2.400," ujar Putri saat ditemui dalam Cardiac Symposium: From Imaging to Intervention di Hotel Prama Sanur Beach, Denpasar, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Putri, tantangan layanan kesehatan jantung di Indonesia bagian timur juga berkaitan dengan kondisi geografis sebagai wilayah kepulauan. Karena itu, pengembangan teknologi medis terintegrasi di Bali diharapkan dapat memperkuat posisi Bali sebagai pusat rujukan bagi pasien dari wilayah timur, sehingga tidak harus menjalani rujukan hingga Jakarta maupun Surabaya.

Pakar Kardiovaskular Intervensi Siloam Hospitals Bali, I Made Junior Rina Artha, menyebut peningkatan penyakit jantung tidak terlepas dari berbagai faktor gaya hidup. Beberapa di antaranya pola makan yang kurang sehat, kadar kolesterol dan gula darah tinggi, hipertensi, serta kebiasaan merokok.

"Kita tahu kebanyakan karena gaya hidup yang tidak sehat, pola makan yang nggak sehat, kolesterol tinggi, gula tinggi, hipertensi, merokok. Tapi kita sekarang ini lebih mengenalkan jika sudah terjadi atau bagaimana mengenal secara dini jangan sampai terjadi serangan jantung atau gagal jantung," kata Junior.

Ia menilai upaya deteksi dini perlu diperkuat bersamaan dengan pengembangan teknologi medis. Sejumlah teknologi seperti CT Cardiac, Cardiac MRI, dan Transesophageal Echocardiography (TEE) kini digunakan untuk memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi jantung pasien sehingga dokter dapat menentukan terapi yang sesuai.

Perkembangan teknologi tersebut dinilai jauh lebih pesat dibandingkan ketika layanan Cath Lab pertama kali tersedia pada 2012.

"Dari physiology study untuk melihat aliran pembuluh darah koroner, kemudian alat CT yang lebih canggih, kemudian MRI cardiac kita punya, kemudian kita punya intravascular imaging kita punya. Belum lagi kita ngomongin cardiac arrhythmia. Ini mungkin akan menjadi perubahan yang sangat eksponensial dalam hal pelayanan kita," jelas Junior.

Putri menambahkan, pemanfaatan teknologi medis bukan semata untuk mempercepat proses pemulihan. Lebih dari itu, teknologi diharapkan mampu menekan risiko komplikasi, mengurangi durasi perawatan, dan membantu pasien mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.

"Mungkin bukan hanya pemulihan lebih cepat ya, kalau pemulihan lebih cepat itu kan jangka pendek. Ini jangka panjang. Jadi quality of life pasien yang kita juga kejar. Habis itu dia tetap bisa ber- beraktivitas dengan lebih baik gitu," tutur Putri. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar