Lensabali.id - Meningkatnya perhatian dunia terhadap kasus Hantavirus pada 2026 ternyata bukan hal baru. Ancaman virus tersebut telah diperingatkan sejak lima tahun lalu oleh Aliansi Vaksin Dunia Gavi melalui platform VaccinesWork.
Dalam artikel bertajuk The Next Pandemic: Hantavirus yang diterbitkan pada 10/05/2021, Gavi menyoroti potensi Hantavirus berkembang menjadi ancaman kesehatan global. Kekhawatiran itu muncul setelah ditemukan kasus penularan antarmanusia di sejumlah wilayah Amerika Selatan.
“Epidemics of person-to-person transmission of the Andes virus in Argentina and Chile indicate it can evolve to sustain human-to-human transmission,” tulis VaccinesWork.
Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Penularan umumnya terjadi melalui paparan udara yang terkontaminasi urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi.
Perhatian dunia terhadap virus ini sebenarnya sudah muncul sejak 1993 ketika wilayah Four Corners di Amerika Serikat diguncang wabah misterius yang menewaskan pasangan muda suku Navajo. Setelah dilakukan penelitian, ilmuwan menemukan jenis baru Hantavirus yang kemudian dinamai Sin Nombre Virus.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam pengawasan global terhadap evolusi Hantavirus. Para ahli mulai mempelajari perbedaan antara tipe “Old World” dan “New World” yang memiliki karakteristik penyakit berbeda.
Jenis Old World yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa umumnya menyebabkan HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Sementara tipe New World di kawasan Amerika dapat memicu HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang memiliki tingkat kematian jauh lebih tinggi.
Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengategorikan ancaman pandemi Hantavirus sebagai rendah, tingkat fatalitas virus ini tetap menjadi perhatian serius. Fatalitas HFRS berkisar 5-15 persen, sedangkan HPS dapat mencapai 35-50 persen.
Gejala awal Hantavirus kerap menyerupai flu biasa seperti demam, nyeri otot, dan muntah. Namun dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gagal ginjal, pendarahan internal, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok kardiovaskular.
Para ilmuwan juga menaruh perhatian pada masa inkubasi virus yang relatif panjang, yakni sekitar dua hingga empat minggu. Kondisi itu memungkinkan penderita bepergian atau berinteraksi dengan banyak orang sebelum gejala muncul. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar