Sistem bantuan sosial berbasis IKD mulai diterapkan di Bali untuk meningkatkan akurasi dan transparansi
DENPASAR, Lensabali.id – Pemerintah Provinsi Bali mendapat kepercayaan khusus dari pemerintah pusat sebagai satu-satunya provinsi yang menjalankan pilot project digitalisasi bantuan sosial secara menyeluruh di seluruh kabupaten/kota.
Kepercayaan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, saat membuka Bimbingan Teknis Percepatan Program Piloting Digitalisasi Bantuan Sosial di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (7/5).
Menurutnya, penugasan ini bukan hanya tanggung jawab administratif kepada pemerintah pusat, tetapi juga amanah besar kepada masyarakat penerima bantuan sosial.
“Bali ditunjuk sebagai satu-satunya provinsi dengan seluruh kabupaten/kotanya menjadi pilot digitalisasi bantuan sosial. Kita wajib menjaga kepercayaan tersebut,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa program masih berada pada tahap awal, dimulai dari proses pendataan agen, pengunggahan data, aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), hingga pelaksanaan Training of Trainers (TOT).
Dewa Indra juga mengungkapkan bahwa Presiden dijadwalkan hadir langsung ke Bali pada Juni mendatang untuk melihat perkembangan implementasi program, termasuk ketepatan sasaran dan efektivitas pelaksanaannya.
Karena itu, ia meminta seluruh agen yang terlibat, sebanyak 8.029 orang, bekerja secara maksimal dan serius dalam memberikan layanan bantuan sosial berbasis digital kepada masyarakat.
Selain percepatan pelaksanaan, ia juga menekankan pentingnya penyusunan laporan yang lengkap dan progresif agar target program dapat tercapai sesuai jadwal.
Sementara itu, Asisten Deputi Koordinasi Penerapan Transformasi Digital Pemerintah Kementerian PANRB, Mohammad Averrouce, menjelaskan bahwa digitalisasi layanan publik bertujuan menghadirkan sistem yang lebih efisien, proaktif, dan transparan.
Menurutnya, transformasi digital juga memungkinkan penyaluran bantuan sosial dilakukan lebih tepat sasaran berbasis data yang terintegrasi.
Direktur Penanggulangan Kemiskinan Bappenas, Tirta Sutedjo, menambahkan bahwa penggunaan IKD menjadi elemen utama dalam sistem ini karena seluruh data penerima bantuan akan disinkronkan dengan data kependudukan nasional.
Melalui sistem digital tersebut, proses penyaluran bantuan sosial diharapkan berubah dari metode manual menjadi layanan elektronik terpadu yang lebih akurat, efektif, dan transparan. (hms/ap)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar