Lensabali.id - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai memberikan dampak terhadap industri smartphone. Besarnya kebutuhan chip memori untuk pusat data AI membuat pasokan RAM dan penyimpanan semakin ketat, yang pada akhirnya berpotensi mendorong harga ponsel naik.
International Data Corporation (IDC) memperkirakan harga jual rata-rata smartphone secara global mencapai USD 581 atau sekitar Rp9,6 juta pada 2026. Nilai tersebut meningkat 27,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan harga terutama dipicu melonjaknya biaya komponen memori. IDC mencatat harga DRAM dan NAND telah meningkat lebih dari 300% secara tahunan. Infrastruktur AI kini bersaing memperebutkan kapasitas produksi memori yang selama ini juga digunakan untuk smartphone, laptop, dan perangkat elektronik lainnya.
Dampaknya mulai terlihat di sejumlah pasar. The Guardian melaporkan beberapa model iPhone di Inggris mengalami kenaikan harga hingga 100 poundsterling. Sementara Google Pixel 11 Pro XL dijual sekitar 80 poundsterling lebih mahal dibandingkan generasi sebelumnya, meski hadir dengan konfigurasi memori yang lebih rendah.
Tekanan paling besar diperkirakan dirasakan produsen smartphone murah. Menurut IDC, biaya memori kini dapat mencapai lebih dari 65% dari total biaya komponen pada perangkat kelas bawah.
Kondisi tersebut turut menekan pasar smartphone global. IDC memperkirakan pengiriman ponsel pada 2026 turun 16,7% menjadi sedikit di atas 1 miliar unit. Penurunan ini disebut sebagai yang terdalam yang pernah dicatat lembaga tersebut.
Segmen ponsel dengan harga di bawah USD 100 menjadi salah satu yang paling terdampak. Pengirimannya tercatat anjlok hampir 60% secara tahunan pada kuartal II-2026. Sejumlah produsen Android pun mulai mengurangi model murah dan mengalihkan portofolio ke perangkat dengan harga lebih tinggi.
Bagi konsumen, dampak krisis memori bukan sekadar kenaikan harga. Produsen juga berpeluang memangkas kapasitas RAM maupun penyimpanan untuk mempertahankan harga jual. IDC sebelumnya memperingatkan, ponsel yang sebelumnya menawarkan RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB bisa digantikan model dengan RAM 8 GB dan penyimpanan 128 GB pada kisaran harga yang sama.
Krisis RAM Bisa Berlanjut hingga 2027
Tekanan pasokan memori diperkirakan belum segera berakhir. Reuters melaporkan sejumlah produsen smartphone dan laptop yang lebih kecil bahkan mulai mendesain ulang produknya karena kesulitan memperoleh komponen memori.
Jolla, misalnya, menyiapkan dua desain motherboard agar dapat menggunakan konfigurasi chip yang berbeda. Framework mengandalkan desain RAM modular, sementara sejumlah produsen lain harus memesan komponen jauh hari meski belum mengetahui secara pasti harga maupun jumlah yang akan tersedia.
CEO SK Hynix sebelumnya memperingatkan bahwa 2027 berpotensi menjadi tahun terburuk dari sisi kapasitas pasokan. Sejumlah pelaku industri bahkan belum memperkirakan kondisi pasar memori kembali normal sebelum 2028.
Jika tekanan pasokan terus berlanjut, konsumen bukan hanya menghadapi potensi kenaikan harga smartphone, tetapi juga kemungkinan mendapatkan spesifikasi RAM dan penyimpanan yang lebih rendah pada kelas harga yang sama. (*ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar