𝗧𝗲𝗿𝗼𝗿 𝗧𝗲𝗹𝗲𝗽𝗼𝗻 𝟯𝟬𝟬–𝟰𝟬𝟬 𝗪𝗡𝗜 𝗽𝗲𝗿 𝗛𝗮𝗿𝗶, 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗼𝗻𝗴𝗸𝗮𝗿 𝗠𝗼𝗱𝘂𝘀 𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘁𝗼𝗿 𝗝𝘂𝗱𝗼𝗹 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 - LENSA BALI

Hot


Rabu, 29 April 2026

𝗧𝗲𝗿𝗼𝗿 𝗧𝗲𝗹𝗲𝗽𝗼𝗻 𝟯𝟬𝟬–𝟰𝟬𝟬 𝗪𝗡𝗜 𝗽𝗲𝗿 𝗛𝗮𝗿𝗶, 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗼𝗻𝗴𝗸𝗮𝗿 𝗠𝗼𝗱𝘂𝘀 𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘁𝗼𝗿 𝗝𝘂𝗱𝗼𝗹 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶

Teror Telepon 300–400 WNI per Hari, Terbongkar Modus Operator Judol di Bali

DENPASAR, Lensabali.id - Praktik operator judi online (judol) yang digerebek di kawasan Benoa, Kuta Selatan, Bali, mulai terkuak. Direktorat Reserse Siber Polda Bali mengungkap para pelaku menjalankan metode telemarketing dengan menyasar ratusan warga negara Indonesia (WNI) setiap harinya.

Direktur Reserse Siber Polda Bali, Kombes Aszhari Kurniawan, menjelaskan bahwa tiga tersangka berperan sebagai operator telepon yang menerima daftar nomor dari seorang leader. Dalam sehari, jumlah nomor yang harus dihubungi bisa mencapai ratusan.

"Dalam sehari, tersangka bisa menerima sekitar 300 sampai 400 nomor telepon WNI dari leader untuk kemudian dihubungi satu per satu," ujar Aszhari, Rabu (29/04/2026).

Para tersangka, yakni IJT alias Gisel, RFT alias Selena, dan MGB alias Aleta, kemudian menghubungi calon korban dan menawarkan untuk mengunduh aplikasi judi online bernama ketua.co. Jika korban menunjukkan ketertarikan, mereka akan mengirimkan tautan unduhan melalui WhatsApp.

Setelah korban masuk ke dalam aplikasi, skema berikutnya dijalankan. Para pengguna diberikan bonus awal untuk memancing minat bermain lebih lanjut.

"Modusnya, pemain diberikan bonus di awal agar mencoba permainan. Setelah itu, jika ingin lanjut, pemain diminta melakukan top up," jelas Aszhari.

Dalam platform tersebut, pengguna dapat melakukan deposit melalui sejumlah virtual account perbankan. Selanjutnya, mereka bebas memainkan berbagai jenis permainan yang tersedia dalam sistem.

Peran lain dalam jaringan ini dijalankan oleh tersangka WAB alias Guang Yun yang bertugas sebagai customer service. Ia melayani keluhan pengguna melalui fitur live chat yang tersedia di situs GN77.

"Jika ada kendala saat bermain, pemain akan menghubungi melalui live chat dan dilayani oleh tersangka yang bertugas sebagai customer service," tambahnya.

Meski terlihat terstruktur, para pelaku disebut hanya menjalankan instruksi dari pihak yang lebih tinggi. "Para tersangka hanya menjalankan peran sesuai arahan dari leader, mulai dari menghubungi calon pemain hingga membantu proses bermain," pungkas Aszhari. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar